• Kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) semakin inovatif dalam perkembangannya untuk meningkatkan performa robot, ada yang ditujukan untuk kepentingan industri, dan ada juga untuk kepentingan seks atau sextech.

    Kehadiran robot seks pun jelas menghadirkan kontroversi, dengan bermacam bahasan mulai dari segi kriminal sampai etika. Namun, untuk ilmuwan Sergi Santos, kehadiran robot seks justru dijadikan bisnis.

    Robot Seks, Solusi atau Cuma Seksisme?

    "Saya sudah siap, bagaimana denganmu? Saya harap kamu siap. Saya menikmati waktu bersamamu, selalu," ucap sebuah robot seks milik Santos ketika si ilmuwan menggodanya.

    Seperti yang dilansir dari Thomson Reuters Foundation, Sabtu (24/3/2018), Santos dan istrinya memang disibukkan dengan bisnis robot seks yang mereka pasarkan pada harga 2.295 euro (sekitar Rp 38 juta).

    Santos percaya kalau memiliki robot seks dapat mengurangi orang yang menyewa jasa prostitusi seperti PSK (pekerja seks komersial), sehingga dapat membantu melawan sex trafficking (penyelundupan manusia untuk tujuan seks)

    "Haruskah kau menyelundupkan manusia? Saya pikir sudah jelas tidak. Jadi, kita harus menghentikan itu dan membuat orang-orang menyisihkan uang mereka untuk boneka-boneka seks ini," ucap Santos yang juga berupaya membuat robot seks laki-laki agar semua jenis kelamin bisa turut menikmati.

    Meski begitu, para ahli menyatakan masalah robot yang bertingkah seperti manusia ditangani secara serius oleh pemerintah dan publik.

    Berpotensi Bahaya

    Salah satu ahli yang menolak pemakaian robot seks sebagai solusi adalah Kathleen Richardson, seorang pakar etika dan pendiri Kampanye Melawan Robot Seks.

    Ia menilai, kehadiran robot perempuan untuk melampiaskan nafsu seksual sebagai sesuatu yang problematis dan mengobjektifikasi perempuan.

    "Saya tidak berpikir robot seks akan mengurangi sex trafficking," ucapnya. Menurut Richardson, robot seks hanya akan menjadi "menu lain" bagi orang-orang yang menggemari pasar prostitusi.

    Richardson menambahkan kalau boneka dan robot seks bisa menjadi berbahaya, contohnya dipakai sebagai sarana pelampiasan fantasi pemerkosaan dan pedofilia.

    "Memberikan boneka seks sebagai 'penyalur' dan membuat orang berfantasi tentang hal itu adalah hal berbahaya," ucap Richardson.

    "Sangat luar biasa tidak bertanggung jawab bila mempromosikan cara berpikir demikian pada masyarakat," lanjut wanita yang sudah mempelajari ilmu robotik selama 10 tahun ini.

    Selama ini, memang ada anggapan bahwa robot seks adalah salah satu "solusi" untuk mengatasi pedofilia.

    Manusia Menikah dengan Robot?

    Menurut prediksi peneliti AI asal London, David Levy, justru hubungan manusia dan robot akan semakin umum, bahkan manusia bisa menikahi robot pada 2050 nanti.

    "Saya melihat tidak ada yang salah dalam memakai robot seks untuk menyediakan kepuasan seksual untuk mereka yang tak bisa meraihnya dalam hubungan dengan manusia lain," ucap Levy pada Thomson Reuters Foundation.

    Levy beranggapan robot seks menyajikan alternatif terutama bagi mereka yang kesepian.

    Ia pun percaya stigma negatif pemakaian robot seks akan perlahan-lahan berkurang, serta inovasi ini akan membantu mengurangi sex trafficking karena orang-orang tidak perlu lagi pergi ke tempat prostitusi manusia. Tak cuma itu, Levy pun berharap kalau harga robot seks bisa semakin murah.

    "Saya tidak melihat ada yang dapat dirugikan oleh orang-orang yang berhubungan seks dengan robot, jadi saya pikir ide tempat prostitusi robot tidak hanya harus dilegalisasi, melainkan didorong untuk mengurangi sex trafficking," pungkasnya.


    votre commentaire



    Suivre le flux RSS des articles
    Suivre le flux RSS des commentaires